Sebutan untuk Perempuan dalam Masyarakat Jawa

Sebutan untuk Perempuan dalam Masyarakat Jawa

Sebutan untuk Perempuan dalam Masyarakat Jawa – Wanita adalah sebutan yang digunakan untuk manusia yang berjenis kelamin atau berjenis kelamin perempuan, sedangkan Perempuan adalah manusia berjenis kelamin betina.

Berbeda dari wanita, istilah “perempuan” dapat merujuk kepada orang yang telah dewasa maupun yang masih anak-anak. Bahasa Jawa yang merupakan bahasa ibu untuk masyarakat Jawa menjadi bagian dari kawruh basa atau pengetahuan tentang bahasa. Dalam kawruh basa sendiri terdapat istilah yang menjelaskan asal-usul dari bahasa atau kata yang dipakai.

Salah satu yang cukup menarik adalah istilah untuk kata perempuan. Gak hanya mengungkap asal-usul, kata perempuan sendiri memiliki sebutan lain dalam bahasa Jawa lengkap dengan maknanya. Berikut beberapa Poker Deposit Pulsa 10RB sebutan untuk kata perempuan dalam masyarakat Jawa beserta filosofinya.

1. Wanita

photo 1551863081 8279c56f17e9 91280d09ee3af1ae278a8a3af4fa7c53 - Sebutan untuk Perempuan dalam Masyarakat Jawa

Meski secara penulisan sama dengan bahasa Indonesia, tapi pelafalan dalam bahasa Jawa menjadi wanito. Dalam kreta basa Jawa, wanita terdiri dua unsur kata yaitu, wani (berani) dan ta: tata (tata atau teratur). Artinya, perempuan itu harus mau diatur, terlebih jika menyangkut norma-norma dan stigma dalam masyarakat.lg.php?bannerid=0&campaignid=0&zoneid=6081&loc=https%3A%2F%2Fwww.idntimes.com%2Flife%2Feducation%2Fpak%2Fperempuan dalam bahasa jawa c1c2%3Fq%3Dmasyarakat&referer=https%3A%2F%2Fwww.idntimes - Sebutan untuk Perempuan dalam Masyarakat Jawa

Misalnya, perempuan itu gak boleh keluar larut malam, maka dia harus manut (menurut). Atau ada juga konsep pingitan, yang sudah mengakar dalam budaya Jawa yang membuat perempuan tidak boleh melawan sekalipun tidak suka.

Selain itu, di artikan juga bahwa perempuan harus berani mengatur. Pemahaman ini mengarah pada kemampuan perempuan untuk meng-handle semua urusan rumah tangga. Namun, secara lebih luas dan mendalam, unsur kata wani dan tata juga bisa di maknai bahwa wanita itu sosok yang multiperan. Gak hanya mampu mengatur urusan domestik, tapi juga berani mengaktualisasikan diri.

2. Wadon

photo 1581952976147 5a2d15560349 e1024404ef51320121769cffb1390978 - Sebutan untuk Perempuan dalam Masyarakat Jawa

Istilah wadon di adaptasi dari bahasa Kawi Wadu yang berarti kawula  atau abdi. Dalam hal ini, perempuan di artikan sebagai abdi bagi laki-laki yang dalam konsep pernikahan merujuk pada suami. Alhasil, perempuan pun di wajibkan untuk taat pada apa pun yang di perintahkan laki-laki.

Kesan patriarkal memang cukup berpengaruh untuk pemaknaan ini yang sebenarnya juga masih banyak berlaku dalam masyarakat. Namun, dalam pemaknaan yang lebih luas dan seimbang, makna ‘abdi’ bagi perempuan juga bisa merujuk pada dedikasi atas setiap hal yang mereka lakukan dan cintai.

Seperti pada pekerjaan yang gak jarang menjadi passion hidup, atau saat perempuan sudah menjadi ibu dan mengabdikan diri untuk mengurus serta mendidik anak-anaknya. Rasanya gak berlebihan jika ‘abdi’ yang seperti ini juga mendapat apresiasi dan penghargaan.

3. Estri

photo 1548289079 549cb3fe97dc 251b34f1f1cce87a49dec3dd2e624444 - Sebutan untuk Perempuan dalam Masyarakat Jawa

Masih dari bahasa kawi, estri di ambil dari kata estren atau pengestren yang berarti pendorong. Secara tata bahasa, perempuan dianggap sebagai sosok yang mampu memberi dorongan. Pemaknaan ini bisa juga merujuk pada ungkapan “di balik laki-laki hebat, ada perempuan hebat.”

Baik perempuan sebagai ibu maupun istri, peran supporting person selalu diemban dan punya pengaruh besar. Gak berhenti di lingkup keluarga dan rumah tangga, peran perempuan sebagai pendorong juga tampak dalam berbagai sektor kehidupan.

Mulai dari pendidikan, perekonomian, sampai politik, perempuan mampu menjalankan peran sesuai kapasitasnya. Baik sebagai pendukung di balik layar ataupun tampil langsung dan bekerja sama dengan laki-laki.

4. Putri

photo 1578102718171 ec1f91680562 e686adb63c3da38bb777ce6d7ee94fc6 - Sebutan untuk Perempuan dalam Masyarakat Jawa

Secara harafiah, putri berarti anak perempuan. Sedangkan dalam kawruh basa yang di konsepkan oleh masyarakat Jawa, putri di sandingkan dengan akronim putus tri perkawis. Penyandingan istilah ini kerap merujuk pada makna kedudukan perempuan yang di tuntut untuk merealisasikan tiga kewajiban wanita (tri perkawis), yaitu sebagai wanita, wadon, dan estri.

5. Kanca wingking lan garwa

photo 1542036813441 fc9a620d539d 6c373bd75e02404ad5706e9afc580b83 - Sebutan untuk Perempuan dalam Masyarakat Jawa

Kedua istilah ini akan otomatis di sandang perempuan saat sudah menikah alias menjadi istri. Kanca yang berarti teman dan wingking yang berarti belakang kemudian di pahami dengan konsep teman di belakang yang linier dengan status istri sebagai makmum laki-laki. Meski kerap di artikan dalam strata kedua, tapi sebenarnya perempuan sebagai kanca wingking juga lekat dengan peran pendorong dan pendukung yang selalu siap membantu baik berupa tenaga maupun pikiran.

Sedangkan garwa berasal dari kata gar: sigar (belahan) dan wa: nyawa (nyawa). Garwa, yang juga identik dengan istri, kemudian di maknai sebagai belahan jiwa. Dalam hal ini, perempuan memegang peran yang setara dengan laki-laki dan menjadi teman hidup yang sejiwa.

Nah, itu tadi lima sebutan untuk perempuan yang ada dalam masyarakat Jawa beserta filosofinya. Meski melekat dengan konsep budaya patriarki, tapi dalam perkembangan di era modern ini perempuan menjalani peran yang terbilang sentral dan setara.

Tagged : / /