Tradisi Adat Masyarakat Aceh yang Erat Kaitannya dengan Islam

Tradisi Adat Masyarakat Aceh yang Erat Kaitannya dengan Islam

Tradisi Adat Masyarakat Aceh yang Erat Kaitannya dengan Islam – Tradisi atau kebiasaan (Latintraditio, “diteruskan”) adalah sebuah bentuk perbuatan yang dilakukan berulang-ulang dengan cara yang sama. Hal ini juga menunjukkan bahwa orang tersebut menyukai perbuatan itu.[1] Jika kebiasaan sudah diterima oleh masyarakat dan dilakukan secara berulang, maka segala tindakan yang bertentangan dengan kebiasaan akan dirasakan sebagai perbuatan yang melanggar hukum.

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam merupakan sebuah provinsi yang terletak di ujung Pulau Sumatra. Di provinsi ini, terdapat 13 suku dan 11 bahasa daerah. Mayoritas penduduk di sana beragama Islam dan tak heran jika Agen Sbobet88 Indonesia provinsi tersebut dijuluki Serambi Mekkah.

Budaya atau tradisi adat di sana pastinya tak lepas dari budaya-budaya Islam. Berikut enam tradisi adat masyarakat Aceh yang bernuansa Islam.

1. Peutron Aneuk

o1aj9qdyyjnsg3j52kokyfvd831nzy7rfuzrk2jywsyo3yybg b3867181eb7af2b26e8a35582685f6af - Tradisi Adat Masyarakat Aceh yang Erat Kaitannya dengan Islam

Peutron Aneuk merupakan sebuah tradisi masyarakat Aceh untuk menyambut kelahiran bayi. Tradisi ini biasanya digelar setelah anak pada umur 44 hari, 3 bulan, 5 bulan, hingga 7 bulan. Masyarakat setempat meyakini bayi yang belum melakukan tradisi tersebut lebih baik tidak keluar rumah terlebih dahulu.

Tradisi ini akan dipimpin oleh pemuka agama yang di sampingnya terdapat air zamzam, sari kurma, ayam panggang, dan buah-buahan. Setelah dibacakan doa-doa, bayi tersebut akan dicicipi berbagai macam rasa ke lidahnya dengan tujuan indera perasanya lebih sensitif.

2. Jak ba Tanda

Tradisi Jak ba Tanda merupakan kelanjutan dari proses lamaran yang biasa dikenal dengan istilah Ba Ranup. Jika lamaran diterima, keluarga pihak pria akan melakukan peukong haba atau pembicaraan mengenai meugatib atau kapan pernikahan akan dilangsungkan, berapa jumlah tamu yang akan diundang, hingga jenis dan jumlah mahar.

Pada tradisi ini, keluarga sang pria akan mengantarkan makanan khas Aceh seperti buleukat kuneeng, buah-buahan, hingga perhiasan. Tradisi ini sendiri diyakini telah dipengaruhi oleh adat istiadat yang berasal dari Arab dan India.

3. Meugang

img 6955 760x490 595e761f24db6d7066ce1a7844b59d70 - Tradisi Adat Masyarakat Aceh yang Erat Kaitannya dengan Islam

Meugang atau Makmeugang merupakan sebuah tradisi yang berlangsung selama 3 kali dalam setahun. Tradisi ini sendiri identik dengan tradisi memakan daging sapi dan kerbau. Kamu dapat menemukan tradisi ini menjelang bulan Ramadan, Hari Raya Idul Fitri, dan hari raya Idul Adha.

Meugang sendiri merupakan sebuah wadah untuk mempererat hubungan kekeluargaan dalam konteks islami. Biasanya para perantau akan pulang ke daerah masing-masing untuk merayakan tradisi ini bersama keluarga mereka.

4. Tulak Bala

20151210 ratusan pantai aceh singkil 5f3c8065a9073f3ccbd806a4fdc4ca05 - Tradisi Adat Masyarakat Aceh yang Erat Kaitannya dengan Islam

Tradisi Tulak Bala merupakan tradisi masyarakat Aceh yang diadakan setahun sekali, tepatnya pada bulan Safar. Munurut cerita masyarakat, sebagian penduduk meyakini bahwa bulan Safar identik dengan cuaca pancaroba atau tak menentu serta mempunyai aura yang kurang baik.

Tradisi ini ditandai dengan warga yang berduyun-duyun menuju ke pantai, sungai, atau tempat lainnya, untuk sekadar menggelar doa dan makan bersama. Inti dari tradisi ini ialah doa bersama yang dipimpin oleh seorang teungku. Di beberapa daerah juga ada juga kegiatan mandi kembang bersama dengan tujuan membuang seluruh aura negatif.

5. Peusijuek

Tradisi Peusijuek biasanya dilakukan dalam serangkaian tradisi adat lainnya seperti pernikahan, syukuran, dan lain-lain. Secara harfiah, kata “Peusijuek” diambil dari kata sijue yang berarti “dingin”. Tradisi ini diharapkan dapat memberikan keselamatan, ketenangan, dan keberkatan.

Pada hakikatnya, tradisi ini merupakan sebuah ungkapan rasa syukur dan memohon perlindungan oleh-Nya. Alat atau bahan yang selalu ada pada tradisi Peusijuek ialah dalong yang berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan bahan-bahan untuk tradisi ini.

6. Khanduri Pang Ulee

Sebagai perayaan Maulid Nabi, masyarakat Aceh mempunyai sebuah tradisi yang cukup khas, yaitu Khanduri Pang Ulee. Sebelum acara berlangsung, ibu-ibu akan menyiapkan makanan atau kue-kue untuk dibawa ke masjid atau lapangan.

Di masing-masing tikar sudah tercantum nama gampong dan para tamu dapat duduk sesuai dengan nama gampongnya. Yang menarik dari acara ini ialah jika makanan yang disajikan tersisa, maka para pengungjung harus membawa pulang sisa makanan tersebut.

Tagged : / /