Kecewa Orang Tua Murid Pengirim Karangan Bunga Tak Terobati

Kecewa Orang Tua Murid Pengirim Karangan Bunga Tak Terobati

Kecewa Orang Tua Murid Pengirim Karangan Bunga Tak Terobati

Kecewa Orang Tua Murid Pengirim Karangan Bunga Tak Terobati – Beberapa orang tua siswa di DKI Jakarta tetap menolak aturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jalur zonasi yang mengutamakan usia.

Mereka menyampaikan kekecewaannya kepada aturan kriteria usia lebih tua dalam penerimaan siswa.

Sementara itu, pada hari yang sama, Senin kemarin, Kemendikbud mengatakan aturan kriteria usia dalam mekanisme PPDB jalur zonasi di Jakarta berkesusaian dengan Permendikbud 44/2019.

Emilia mengaku bebrapa orang tua tidak sanggup menutupi kekecewaannya terkait aturan dan kebijakan tersebut.

Apalagi, di lapangan saat proses penerimaan juga tidak sesuai dengan kenyataan.

“Seleksinya bilang pakai jarak, tapi ternyata lihat pas pelaksanaannya usia yang didahulukan usia. Jadi kecewa berat orang tua seperti itu,” paparnya.

“Sejak pandemi ini, dikeluarkan petunjuk teknis itu tidak ada sosialisasi dari sekolah manapun, dia hanya dari demonya di instagram atau apa. Itu kan belum tentu penyampaiannya sama rata yang didapat,” terangnya.

PPDB jalur zonasi di Jakarta pernah menjadi polemik

Aturan PPDB jalur zonasi di Jakarta pernah menjadi polemik sebab hanya menyediakan 40 persen kuota.

Sementara, dalam Permendikbud disebutkan bahwa kuota penerimaan untuk jalur zonasi sebesar 50 persen.

“Dalam hal ini dibukanya kembali zonasi bina RW kami sudah koordinasi pada waktu itu. Memang dalam praktiknya zonasi 50 persen sesuai permendikbud 44/2019 itu sudah tercapai,” pungkas Catharina saat konferensi pers di Gedung Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Senin.

Menurut Catharina, aturan PPDB DKI Jakarta juga sudah tepat. Ia menilai, polemik ini dikarenakan oleh kurangnya komunikasi dari pihak Pemprov DKI yang menyampaikan isi dari SK Kadisdik Nomor 501 Tahun 2020 tentang Petunjuk Teknis PPDB Jakarta.

“Mungkin keterbacaan dalam Juknis saja yang kurng. Ini yang tadi dismpaikan Bapak Sekda dan Ibu Disdik,” imbuhnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah DKI Saefullah menyampaikan, masalah kuota dalam PPDB jalur zonasi ini sebagai cara menyesuaikan daya tampung sekolah negeri di Jakarta.

Ia mencontohkan, untuk tingkat SMP, daya tampung sekolah negeri di Jakarta hanya 46,7 persen

Kemudian, untuk tingkat SMA dan SMK, daya tampung sekolah negeri di sekitar 32,9 persen.

Oleh sebab itu, menurut Sekda, tidak mungkin seluruh siswa di Jakarta ditampung di sekolah negeri.

“Tapi per hari ini kita catat bahwa untuk zonasi yang sudah eksisting di terima SMP 51 persen lebih. Untuk SMA sudah 50,07 persen. Artinya bahwa zonasi di DKI Jakarta suda sesuai regulasinya Permendikbud 44,” ucap Saefullah.

“Kita harap semuanya, semua pihak bisa memaklumi. Kita ciptakan pendidikan yang berpihak pada anak-anak yang harus kita teruskan pendidikan, anak-anak usia SMP dan SMA. Jangan sampai putus sekolah,” sambungnya.