Kisah Jenderal Hoegeng, Satu Dari Tiga Polisi Jujur Di Guyonan Gus Dur

Kisah Jenderal Hoegeng Satu Dari Tiga Polisi Jujur Di Guyonan Gus Dur

Kisah Jenderal Hoegeng, Satu Dari Tiga Polisi Jujur Di Guyonan Gus Dur

Kisah Jenderal Hoegeng, Satu Dari Tiga Polisi Jujur Di Guyonan Gus Dur – Nama Jenderal Hoegeng Iman Santoso kembali menarik perhatian setelah seorang warga dipanggil polisi sebab unggahannya soal polisi. Ismail Ahmad, warga Kepulauan Sula, Maluku Utara mengunggah humor Presiden ke-4 Indonesia Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur.

Ismail menuliskan, humor Gus Dur, “Ada tiga polisi jujur di Indonesia, yaitu polisi tidur, patung polisi, dan Jenderal Hoegeng”.

Asvi Warman Adam dalam artikelnya “Hoegeng, Polisi Teladan” yang dimuat di Harian Kompas, 1 Juli 2004, menyampaikan, nama pemberian ayahnya ialah Iman Santoso. Saat kecil, Hoegeng sering dipanggil Bugel (gemuk), lama-kelamaan menjadi Bugeng, akhirnya berubah jadi Hugeng.

Awal karier sebagai polisi

Sesudah lulus dari PTIK pada 1952, Hoegeng ditempatkan di Jawa Timur. Tugas keduanya sebagai Kepala Reskrim di Sumatera Utara yang menjadi batu ujian bagi seorang polisi sebab daerah itu terkenal dengan penyelundupan.

Sikap Hoegeng ini pun membuat gempar Kota Medan. Selepas dari Medan, Hoegeng kembali ke Jakarta dan ditugaskan Presiden Soekarno untuk menjadi Direktur Jenderal (Dirjen) Imigrasi.

Chris Siner Key Timu dalam artikel “Pak Hoegeng dalam Kenangan” yang dimuat di Harian Kompas, 15 Juli 2004, menceritakan, Hoegeng meminta istrinya, Merry untuk menutup toko kembang.

Pada 1968, Presiden Soeharto mengangkat Hoegeng sebagai Kepala Polri menggantikan Soetjipto Yudodihardjo. Dalam artikel yang ditulis Rosihan Anwar.

“In Memorian Hoegeng Imam Santoso” yang dimuat di Harian Kompas, 15 Juli 2004, mengatakan, pada masa itu kasus penyelundupan merajalela.

Di antara yang populer adalah kasus penyelundupan mobil mewah yang didalangi oleh Robby Tjahyadi atau Sie Tjie It.

Pada 1971, Hoegeng mengumumkan keberhasilannya dalam membekuk penyelundupan mobil mewah melalui Pelabuhan Tanjung Priok. Mobil-mobil itu dimasukkan dengan perlindungan tentara.

Ternyata, pengungkapan kasus tersebut mempercepat pemberhentiannya sebagai Kepala Polri. Soeharto beralasan, pemberhentian Hoegeng tersebut merupakan untuk regenerasi.

Selepas itu, Hoegang sebetulnya ditawari menjadi duta besar oleh Soeharto, namun ia menolaknya.

“Saya menolak penugasan saya sebagai duta besar di luar negeri, karena saya merasa tidak capable untuk tugas itu,” ucap Hoegang, dikutip dari pemberitaan Harian Kompas, 15 September 1971.

“Saya mau pikir keluarga saya dulu. Kedua anak saya masih sekolah dan kalau saya ke luar negeri, studi mereka bisa kacau,” imbuh dia.

Jenderal Hoegeng meninggal dunia pada 14 Juli 2004 setelah menjalani perawatan di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, karena stroke yang dideritanya. Hoegeng dimakamkan di Parung Raya, Bogor, Jawa Barat.

Tagged : / / /