7 Persen Masyarakat Yakin Gak akan Tertular COVID-19

17 Persen Masyarakat Yakin Gak akan Tertular COVID-19

7 Persen Masyarakat Yakin Gak akan Tertular COVID-19 – Badan Pusat Statistik mengatakan bahwa masih ada masyarakat yang yakin tidak akan terpapar virus corona.

Kecuk Suhariyanto mengungkapkan, masih ada masyarakat Indonesia yang yakin tak tertular virus corona atau COVID-19. Hal itu berdasarkan survei BPS mengenai perilaku masyarakat di masa pandemik COVID-19 dengan 90.967 responden, yang dilakukan pada 7-14 September 2020.

“17 persen atau 17 dari 100 responden, itu mereka mengatakan sangat tidak mungkin tertular COVID-19. Jadi mereka yakin bahwa mereka itu tidak akan tertular atau tidak mungkin tertular,” ungkapnya seperti dilansir dari dvouval.com, Senin.

Pemerintah diminta lebih keras meningkatkan pemahaman mengenai COVID-19

Dari hasil survei tersebut, semua pihak khususnya pemerintah diminta lebih keras lagi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang COVID-19.

“Jadi perlu terus menerus digalakkan bahwa siapa pun itu bisa terkena risiko karena COVID-19. Tidak mengenal umur, tidak mengenal jenis kelamin, tidak mengenal pendidikan, tidak mengenal status sosial,” ucapnya.

“Jadi perlu sentuhan khusus supaya pemahaman masyarakat jadi lebih komplet. Sehingga, mereka harus jaga-jaga karena siapa pun bisa terkena,” sambungnya.

Persepsi itu dipengaruhi tingkat pendidikan

Dalam paparannya, 16,9 persen responden laki-laki dan 17 persen perempuan meyakini tak akan tertular COVID-19. Rinciannya, kelompok usia 17-30 tahun ada 20,2 persen, usia 31-45 tahun 15,4 persen, usia 46-60 tahun 16,2 persen dan usia di atas 60 tahun 17,4 persen.

“Persepsi tidak mungkin tertular itu terkait erat dengan pendidikan. Ketika pendidikannya rendah, mereka yakin bahwa saya pasti gak tertular. Tetapi kalau pendidikannya tinggi, kesadarannya sudah tinggi, sehingga persentasenya menurun,” jelasnya.

Survei ini melibatkan 55 persen responden perempuan dan 45 persen responden laki-laki. Selain itu, 69 persen responden berusia kurang dari 45 tahun dan 61 persen responden berpendidikan DIV-S1.

Persepsi Ini Berkaitan Erat Dengan Tingkat Pendidikan Masyarakat

Doni Monardo: Tidak ada satu pun yang aman dari COVID-19

Menanggapi hasil survei tersebut, Ketua Satgas Penanganan COVID-19, Doni Monardo mengatakan, jika ada 17 persen masyarakat yakin tak tertular COVID-19, maka ada 45 juta dari 270 juta penduduk Indonesia meyakini tidak tertular virus tersebut.

“Padahal kita semua tahu, status yang kita hadapi sekarang adalah pandemik. Artinya, boleh dikatakan tidak ada satu jengkal tanah pun yang akan betul-betul aman atau yang betul-betul bebas dari COVID. Dalam waktu yang sangat cepat, wabah ini bisa menulari,” ujar Doni.

Doni menjelaskan, media penularan COVID-19 adalah manusia. Jika manusia itu terpapar dan sakit, maka bisa diantisipasi dan dirawat di rumah sakit.

“Pasti kita bisa menghindarinya. Masalahnya adalah mereka yang tanpa gejala, mereka sebagai carrier. Kalau seandainya 17 persen ini tidak merasa terpapar COVID, lantas ada di antara orang terdekatnya positif COVID. Ya cepat atau lambat, pasti akan tertular,” ucap Doni.

Doni menambahkan, Satgas bersama Kemenkes dan Balitbangkes pernah melakukan survei serupa pada Juli 2020 lalu. Hasilnya, ada lima provinsi teratas yang masyarakatnya yakin tak akan kena COVID-19.

“Yang pertama itu DKI 30 persen, kemudian Jawa Timur 29 persen, Jateng 18 persen, Jabar 16 persen, serta Kalsel 14 persen. Itu data yang dilakukan Juli lalu,” ungkapnya.

“Sekarang ada perubahan secara nasional 17 persen. Ini berarti ada kemajuan. Mudah- mudahan, dengan semakin gencarnya sosialisasi dan edukasi oleh banyak pihak, makin banyak masyarakat sadar COVID ini ancaman yang nyata, COVID bukan rekayasa, COVID bukan konspirasi,” sambung Kepala BNPB ini.

Tagged : / /

Tidak Pakai Masker di Bekasi Bisa Denda

Tidak Pakai Masker di Bekasi Bisa Denda

Tidak Pakai Masker di Bekasi Bisa Denda – Pemerintah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, masih berpegang pada kebijakan yang tertuang dalam peraturan bupati mengenai besaran denda bagi pelanggar yang tidak memakai masker yakni sebesar Rp250.000.

Juru Bicara Gugus Tugas COVID-19 Kabupaten Bekasi Alamsyah mengatakan sanksi bagi pelanggar Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayahnya merujuk pada Peraturan Bupati Bekasi Nomor 48 Tahun 2020 tentang pengenaan sanksi terhadap pelanggaran pelaksanaan PSBB.

“Kita masih berpegang pada petunjuk dan sanksi yang tertuang dalam Perbup Bekasi Nomor 48, termasuk pengenaan sanksi bagi pelanggar yang tidak memakai masker saat beraktivitas di luar rumah,” kata Alamsyah di Cikarang, Selasa.

Dia menjelaskan setiap orang yang tidak melaksanakan kewajiban menggunakan masker di luar rumah pada tempat atau fasilitas umum akan dikenakan denda administratif maksimal Rp250.000.

“Atau bisa juga dikenakan sanksi dalam bentuk kerja sosial berupa membersihkan sarana fasilitas umum,” katanya.

Pemberian sanksi tersebut dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja dan perangkat daerah sesuai dengan tugas pokok dan fungsi serta bidang kewenangannya.

“Dapat juga dibantu atau didampingi oleh pihak kepolisian dalam penerapan pemberian sanksi ini,” ucapnya.

Tidak gunakan masker di luar rumah dikenakan denda maksimal Rp250.000

Dia menjelaskan setiap orang yang tidak melaksanakan kewajiban menggunakan masker di luar rumah pada tempat atau fasilitas umum akan dikenakan denda administratif maksimal Rp250.000.

“Atau bisa juga dikenakan sanksi dalam bentuk kerja sosial berupa membersihkan sarana fasilitas umum,” katanya.

Pemberian sanksi dilakukan Satpol PP dan polisi

Pemberian sanksi tersebut dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja dan perangkat daerah sesuai dengan tugas pokok dan fungsi serta bidang kewenangannya.

“Dapat juga dibantu atau didampingi oleh pihak kepolisian dalam penerapan pemberian sanksi ini,” ucapnya.

Kebijakan akan menunggu juknis

Mengenai kebijakan baru Gubernur Jawa Barat pihaknya mengaku masih menunggu petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis pembebanan denda untuk dipelajari.

“Kita tunggu dulu juklak-juknisnya seperti apa yang pasti sampai saat ini kita masih pakai Peraturan Bupati Bekasi Nomor 48,” ungkapnya.

Sanksi baru akan berlaku 27 Juli 2020

Diketahui sebelumnya, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Jawa Barat yang juga Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, mengeluarkan kebijakan baru menyangkut penerapan sanksi denda kepada warga yang kedapatan tidak menggunakan masker.

Rencananya sanksi denda sebesar Rp100.000-Rp150.000 atau hukuman kerja sosial itu mulai efektif diberlakukan Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada 27 Juli mendatang sambil menunggu dasar hukum yang tengah dirumuskan dan akan dituangkan dalam bentuk Peraturan Gubernur.

Tagged : / / / / /

Beragam Tanggapan Menyikapi Corona

Beragam Tanggapan Menyikapi Corona

Beragam Tanggapan Menyikapi Corona – Awal Maret 2020, Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama corona yang menyerang warga yang tinggal di Indonesia.

Kepanikan semakin menjadi, setelah sebelumnya harga masker melambung naik, kini stoknya semakin sedikit.

Permintaan cairan pencuci tangan atau hand sanitizer juga semakin meningkat di pasaran.

Alat-alat itu diklaim mampu melindungi masyarakat dari kemungkinan terjangkit virus yang berasal dari Wuhan, Cina ini.

Di Jakarta, warga juga sudah bersiap dengan kemungkinan tersebarnya virus corona.

Riski Wahyudi, seorang pegawai hotel di Jakarta, menjelaskan, dirinya tidak takut pada corona.

Walau begitu, Riski masih melakukan antisipasi untuk menangkal kemungkinan terserang virus.

“Selagi masih sehat, saya enggak takut ya,” jelasnya, Jumat.

Untuk penggunaan masker, Riski mengatakan hanya memakainya saat dirinya sedang kurang sehat atau berkegiatan di luar ruangan.

Cara ini juga Riski dilakukan ke keluarga yang berada di rumah.

Sama dengan Riski, Septi, pegawai hotel di Jakarta, juga memakai masker di saat kondisinya sedang sakit saja.

Pemakaian masker

Pemakaian masker untuk mencegah corona belakangan ini menjadi perbincangan sebab dianggap tidak efektif,.

Mengingat sebaran virus tidak melalui udara, melainkan droplets atau percikan air liur saat bersin atau batuk dari orang yang terinfeksi.

Untuk itu, semua orang diharapkan beretika ketika bersin atau batuk serta memakai masker saat dirasa tubuh kurang sehat.

Aziza Rafa Karina (17), siswa SMA Al Azhar 2, punya cara berbeda. Sebagai pelajar ia harus waspada terhadap virus corona.

Ia mencari informasi melalui internet sebagai langkah mengedukasi diri sendiri. Selain itu, Azizah juga mengikuti sosialisasi yang digelar di sekolahnya.

Tak cuma sebagai langkah pencegahan terserang virus, tapi juga menghindari kabar bohong tentang corona.

Sejak virus corona ini jadi perbincangan banyak orang, ACT sudah melakukan berbagai pencegahan.

Di titik-titik keramaian, seperti bandara, ACT sudah distribusikan masker. Pengiriman ribuan masker bagi warga Indonesia yang ada di luar negeri pun dilakukan.

Tak cuma itu, ACT juga terus menyosialisasikan pencegahan corona. Jumat, sejumlah tempat seperti Hotel Bellevue Suite Jakarta dan di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah didatangi tim medis ACT.

Dokter Muhammad Riedha Bambang menyampaikan, langkah ini diambil ACT agar masyarakat tidak perlu panik menghadapi corona.

“Dengan gaya hidup sehat sebenarnya tak hanya corona yang bisa dihindari, tapi juga berbagai penyakit lain,” pungkasnya.

Tagged : / /

Uji Coba Vaksin Corona

Uji Coba Vaksin Corona

Uji Coba Vaksin Corona, – Para ilmuwan dari berbagai belahan dunia tengah berlomba mengembangkan vaksin Corona. Beberapa kandidat vaksin Corona juga tengah memasuki uji coba tahap akhir.

Beberapa kandidat vaksin virus Corona telah mencapai tahap akhir uji coba manusia dan yang lainnya juga melaporkan perkembangan yang baik.

Namun orang yang pertama kali akan mendapatkan vaksin Corona ketika siap didistribusikan untuk umum masih harus ditinjau kembali.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan para pemimpin politik seperti Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Angela Merkel, dan Presiden China Xi Jinping menyerukan vaksin virus Corona COVID-19 agar bisa diakses di seluruh dunia.

Meski begitu, pada kenyataannya banyak negara yang melakukan kesepakatan dengan perusahaan farmasi untuk memastikan mereka yang pertama kali mendapatkan vaksin Corona.

Salah satu vaksin yang dikembangkan oleh para peneliti di Universitas Oxford dan dilisensikan ke AstraZeneca juga diharapkan akan tersedia untuk warga Inggris pada bulan September.

Pemerintah Inggris mencapai kesepakatan dengan pengembang vaksin bulan lalu untuk memiliki 30 juta dosis yang tersedia ketika sudah selesai, dengan 70 juta dosis tambahan kemudian.

Pemerintah Amerika Serikat juga membantu pendanaan pengembangan vaksin Corona dan sebagai imbalannya akan menerima 300 juta dosis vaksin.

Awal bulan ini, Perancis, Jerman, Italia, dan Belanda membentuk Aliansi Vaksin Inklusif untuk mempercepat proses pengembangan vaksin Corona. Mereka ingin perusahaan farmasi setuju bahwa produk apapun yang dikembangkan dapat diakses dengan mudah dan tersedia serta terjangkau di Uni Eropa.

Kanada, Brasil, dan Uni Emirat Arab, yang setuju untuk menjadi tuan rumah uji coba fase 3 vaksin tiga perusahaan China. Juga disebut bisa mendapatkan vaksin Corona lebih awal berdasarkan kesepakatan mereka dengan para pengembang vaksin Corona.

“Vaksin Corona COVID-19 melibatkan pengembangan, pembuatan, pengadaan, dan administrasi. Saya pikir hal pertama yang harus dihindari dalam proses ini adalah apa yang disebut nasionalisme vaksin,” kata Zhang Li, direktur untuk inovasi strategis dan investor baru di Gavi, Aliansi Vaksin, kemitraan kesehatan global publik-swasta yang dibentuk oleh Bill & Melinda Gates Foundation.

Li Yinuo, direktur perusahaan Bill & Melinda Gates Foundation, mengatakan bahwa teknologi akan menjadi kunci dalam menyelesaikan konflik kepentingan dalam memenuhi permintaan domestik dan membuat vaksin dapat diakses dan terjangkau bagi seluruh dunia.

“Tidak semua orang harus diimunisasi ‘dalam sehari’ dan program-program dapat dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan, dimulai dengan mereka yang paling berisiko, seperti orang tua dan pekerja perawatan kesehatan,” jelas Li.

“Ini adalah tantangan dan bergantung pada kemajuan teknologi untuk menyelesaikannya. Kami telah melihat beberapa teknologi yang dapat mencapai kapasitas produksi tinggi dalam waktu yang relatif terkendali,” pungkas Li.

Tagged : / / / /